Memperkuat Budaya Makan Ikan dalam Menyongsong Generasi Emas 2045
Ketimpangan Gizi dan Infrastruktur
Tantangan terbesar yang dihadapi program Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan), yang telah berjalan dua dekade, adalah ketimpangan konsumsi antarwilayah. Data KKP 2024 jelas menunjukkan bahwa masyarakat di wilayah Timur mengonsumsi ikan jauh lebih banyak daripada wilayah Barat. Hal ini disinyalir adanya faktor kedekatan wilayah dengan sumber bahan baku dan budaya konsumsi ikan di suatu wilayah.
Ketimpangan ini diperparah oleh masalah struktural terkait logistik dan distribusi. Ketiadaan sistem rantai dingin (cold chain) yang merata menyebabkan harga ikan di daerah pedalaman melonjak drastis, memaksa konsumen beralih ke sumber protein yang lebih stabil harganya, seperti ayam dan telur.
Selain itu, hampir 73,90% konsumsi ikan kita masih didominasi ikan segar. Sementara itu, produk olahan modern yang praktis (seperti nugget, bakso ikan ataupun fillet ikan) masih terkonsentrasi di Pulau Jawa, di mana 51,89% industri pengolahan ikan modern berada.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan: infrastruktur yang timpang membuat produk olahan modern sulit diakses di luar Jawa, padahal produk olahan inilah yang dibutuhkan untuk mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat urban yang mendambakan kepraktisan.
Menembus Hambatan Psikologis dan Digital
Di wilayah yang budayanya kuat dengan konsumsi daging (seperti di Jawa), ikan masih dianggap "kurang praktis" dibandingkan ayam. Persepsi terhadap bau amis juga masih menjadi hambatan psikologis, terutama bagi anak-anak dan remaja yang terpapar kuat oleh industri makanan cepat saji.
Di sinilah literasi gizi dan transformasi digital berperan penting. Walaupun mayoritas masyarakat mengetahui ikan adalah sumber protein, masih banyak yang belum memahami manfaat gizi spesifiknya—terutama kandungan Omega-3 yang vital untuk kecerdasan. Studi ilmiah bahkan menunjukkan dampak langsung: anak yang “sering” makan ikan memiliki skor IQ rata-rata 4,8 poin lebih tinggi dibanding dengan anak yang jarang atau tidak pernah makan ikan. Kesenjangan informasi gizi ini harus diatasi melalui edukasi yang sistematis.
Dalam era digital, mengutip data reportal.com, pengguna internet di Indonesia mencapai 74,6% dari total penduduk dan 97,8% penduduk berusia remaja aktif mengakses media sosial. Kondisi ini memberikan harapan terhadap kemudahan masyarakat dalam mendapatkan informasi termasuk produk perikanan yang berkualitas. Namun demikian, pada kenyataannya konten edukatif dan promosi kreatif tentang ikan lokal masih kalah pamor dibanding dengan sumber protein lainnya.
Tiga Pilar Strategi Ikan Masa Depan
Mengingat tantangan yang kompleks ini, peningkatan konsumsi ikan harus didasarkan pada pendekatan sistemik dan lintas sektor sejalan dengan blue economy dan ketahanan pangan nasional. Strategi harus bertumpu pada tiga pilar yaitu :
Pertama, penguatan Sistem Pasokan dan Keterjangkauan. Ini berarti perlu adanya investasi agresif pada distribusi yang menggunakan rantai dingin tanpa putus dan stabilisasi harga di semua wilayah, serta mendukung pertumbuhan UMKM dan industri pengolahan ikan modern di semua wilayah Indonesia.
Kedua, perubahan perilaku konsumsi (Revitalisasi GEMARIKAN 2.0). Edukasi dan literasi gizi harus diperkuat, difokuskan pada manfaat Omega-3 bagi kecerdasan dan manfaat spesifik lainnya dari ikan. Selain itu, diversifikasi produk untuk menghilangkan persepsi amis dan meningkatkan kepraktisan harus terus dikedepankan. Program inovatif seperti Kantin Ikan Sehat di sekolah dan pemilihan ikan sebagai menu utama program makan bergizi gratis merupakan kunci mengubah kebiasaan sejak dini.
Ketiga, transformasi Digital dan Kemitraan. Pemerintah perlu mengoptimalisasi digital marketing melalui kampanye kreatif seperti "#IkanUntukGenerasiEmas" yang menggunakan narasi sehat dan modern. Merekrut "Fishfluencer" (duta digital muda) dapat dijadikan alternatif guna menarik perhatian generasi muda melalui media sosial dan membuat ikan menjadi kuliner yang populer.
Meningkatkan Konsumsi Ikan Masyarakat (KIM) bukan sekadar target angka indikator kinerja pemerintah, tetapi bagian integral dari strategi pembangunan manusia Indonesia yang unggul dan sehat. Keberhasilan kebijakan ini akan menjadi dorongan kuat penurunan stunting dan pertumbuhan ekonomi biru berkelanjutan.
Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, Indonesia dapat menegaskan posisinya sebagai negara maritim yang kaya sumber daya perikanan dengan masyarakat yang gemar dan cerdas mengonsumsi ikan.
Selamat Hari Ikan Nasional ke-12, Mari rayakan dengan makan ikan bersama keluarga!!
Disclaimer : tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan bukan merupakan gambaran kebijakan institusi.